Segera Wujudkan Planetarium Wisata Edukasi

Salurkan Buku dan Masker ke TBM Lentera Pustaka Alumni SMAN 30 Jakarta  –Hari-hari ini begini. Mungkin Pak Donald Trump tengah nikmati kesendiriannya di Gedung Putih. Sambil menanti saat untuk angkat koper berasal dari situ. Sambil selalu meng-klaim dia menang. Di saat yang lain, dia berpidato Pilpres AS penuh kecurangan. Satu kali bilang menang, di kali yang lain bilang curang. Itulah cara Pak Trump. Sebenarnya sih, sah-sah saja dia menentang hasil pilpres itu. Tapi sayang, dia melakukannya bersama cara yang salah. Dan sebentar lagi, Pak Trump “hampir pasti” angkat koper berasal dari Gedung Putih diganti oleh Pak Joe Biden. Lalu, para analis merasa bergeming. Tentang apa dampaknya bagi Indonesia? Bagaimana politik luar negeri AS nantinya? Ahh maaf, saya tidak tahu soal itu semua. Itu bukan negara saya.
Kekuasaan itu emang memacu adrenalin. Membangkitkan nafsu birahi berkuasa. Siapa pun dan di manapun. Tidak jikalau di negeri ini. Besok pun ada 270 daerah yang dapat diperebutkan kekuasaan. Sebagian bermimpi miliki kekuasaan. Sebagian yang lain tengah berjuang untuk berkuasa. Dari kuasa pula bisa keluar kesewenang-wenangan. Bahkan berasal dari banyak penguasa atau orang yang berkuasa. Sifat hakikinya jadi arogan, apatis, dan egois. Tidak hiraukan pada apa pun dan siapa pun. Saat studi dulu, saya kira kekuasaan itu amanah. Ternyata bukan. Tapi kenapa, kekuasaan selalu saja dikejar orang, itu soal lain.
Walaupun belum pasti miliki fungsi bikin orang lain. Kekuasaan, bisa jadi diakui lebih prestise. Lebih keren sebagai simbol status. Berkuasa tapi tidak bisa memberdayakan orang lain tidak masalah. Berkuasa tapi gagal mengangkat orang yang lemah pun tidak mengapa. Karena kekuasaan diakui soal besar bagi pemiliknya. Hingga akhirnya lupa. Bahwa kekuasaan itu hanya barang rapuh kembali semu.

Bila kekuasaan itu soal besar. Maka ada soal kecil dalam hidup manusia. Misalnya, urusan taman bacaan itu soal kecil. Karena di taman bacaan tidak ada popularitas. Tidak ada uangnya. Taman bacaan tidak bisa bikin orang bergengsi. Apalagi hanya mengurus rutinitas membaca anak orang. Maka wajarlah urusan taman bacaan jadi remeh temeh. Sangat benar. Memang begitu fakta taman bacaan di Indonesia. Sedikit yang peduli, sedikit saja yang berkenan berkiprah. Karena urusan taman bacaan hanya bisa dijalankan oleh mereka yang “sudah kelar” bersama hidupnya. Sementara yang belum, pasti belum sampai ke situ …
Jadi, apa yang saya berkenan katakan di sini?
Saya hanya berkenan bilang. Memang nyata, hidup manusia itu dihadapkan pada dua kutub yang kontradiktif. Buat seorang Pak Trump kekuasaan itu soal besar, saat taman bacaan soal kecil. Bahwa banyak orang lebih puas bersama urusan “besar” daripada urusan “kecil” itu fakta. Kekuasaan, pangkat, harta dan jabatan itu besar. Tapi urusan rutinitas baca, anak putus sekolah sampai kemiskinan orang lain itu soal kecil. Maka, lebih sedap berebut soal besar daripada soal kecil. Begitu kira-kira.
Semoga saja kami tidak lupa. Bahwa urusan besar di dunia bisa jadi itu hanya soal kecil di akhirat. Sebaliknya, apa yang diakui soal kecil di dunia bisa jadi timbangannya berat di akhirat. Tentu, ini hanya pesan moral. Agar kami tidak lupa. Sebenarnya kami ini, berasal dari mana berasal dan berkenan ke mana pergi nanti?
Zaman begini. Soal amal bukan kembali soal besar. Mungkin soal surga dan neraka terhitung diakui soal kecil. Kepedulian kepada sesama tidak popular. Bahkan soal taman bacaan pun diakui bukan zamannya lagi. Semua perilaku baik sudah jadi soal kecil. Tapi soal kebencian, permusuhan dan kekuasaan justru jadi barang besar.
Esok, barangkali berapa lama saat lagi. Kita hanya habiskan saat untuk mengurusi hal-hal yang “nampak besar”. Sementara lupa pada hal-hal yang “nampak kecil” di dunia. Lebih cenderung pada kekuasaan yang besar. Gemar pada style hidup, gengsi, dan standing sosial sehingga dibilang besar kembali hebat. Mau sampai kapan?
Seperti si Trump. Kadang manusia sebetulnya lebih puas menentang kebaikan sekecil apa pun. Lalu berdalih bersama cara-cara yang salah. Manusia kerap lupa. Bahwa amal dan kebaikan kecil yang kerap kami abaikan. Justru itu yang dapat jadi “tangga” menuju ke surga-Nya.
Pantas, makin lama banyak orang yang kerap terjatuh. Bukan sebab menabrak batu besar tapi sebab tersandung batu kecil. Terlihat tapi merasa tidak nampak di matanya…

Related Post